foto mahsiswa jurusan stress yang rendah tersenyum ke arah kamera

Ini 10+ Jurusan Kuliah dengan Tingkat Stres Paling Rendah

Daftar Isi

Artikel ini membahas secara lengkap tentang jurusan kuliah dengan tingkat stres rendah, mulai dari kondisi stres mahasiswa saat ini, faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat stres, hingga daftar lengkap jurusan yang paling santai untuk dipelajari. Di akhir, kamu akan mendapatkan panduan persiapan IELTS yang tepat untuk kuliah di luar negeri dengan jurusan yang minim stres.

 

Tingkat Stres Mahasiswa dan Kesadaran Akan Mental Health

Stres mahasiswa bukan lagi masalah sepele yang bisa diabaikan. Data terbaru menunjukkan bahwa kondisi kesehatan mental pelajar dan mahasiswa di seluruh dunia, termasuk Indonesia, semakin memprihatinkan dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.

1. Fakta Mengkhawatirkan tentang Stress Mahasiswa

Berdasarkan data dari Research.com dan berbagai studi tentang stres mahasiswa di tahun 2025, kondisi yang terjadi sangat mengkhawatirkan. Sekitar 60% mahasiswa melaporkan merasakan stres setiap hari, dan 1 dari 5 mahasiswa college merasa stres hampir sepanjang waktu. Lebih mengejutkan lagi, tingkat stres mahasiswa telah meningkat hingga 30% dalam tiga dekade terakhir.

Di Amerika Serikat, remaja bahkan melaporkan tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Pada skala 10 poin, di mana orang dewasa menilai stres mereka pada 3.8, remaja melaporkan tingkat stres sebesar 5.8. Sementara itu, 45% mahasiswa di high school mengaku merasa stres hampir setiap hari di sekolah, dan 75% siswa high school serta 50% siswa middle school secara konsisten merasa tertekan karena beban sekolah.

Yang lebih memprihatinkan, hanya 9% mahasiswa yang melaporkan tidak ada stres atau stres di bawah rata-rata. Artinya, mayoritas besar mahasiswa mengalami tingkat stres yang signifikan selama masa perkuliahan mereka.

 

2. Dampak Jangka Panjang dari Stress Akademis

Stres yang berkelanjutan bukan hanya mempengaruhi nilai akademis, tetapi juga kesehatan fisik dan mental jangka panjang. Stres kronis dapat meningkatkan kemungkinan gangguan kecemasan, depresi, dan masalah kesehatan mental lainnya yang dapat bertahan hingga dewasa. Secara fisik, stres kronis dapat menyebabkan masalah pada sistem kardiovaskular, hipertensi, penyakit jantung, serta melemahkan sistem kekebalan tubuh.

Mahasiswa yang mengalami stres tinggi lebih mungkin mengalami kinerja akademis yang buruk, nilai rendah, bahkan dropout dari universitas. Data menunjukkan bahwa 47.5% mahasiswa college di Amerika Serikat melaporkan bahwa prokrastinasi berdampak negatif pada kinerja akademis mereka, yang sering kali dipicu oleh tingkat stres yang tinggi.

 

3. Meningkatnya Kesadaran akan Mental Health

Kabar baiknya, kesadaran akan pentingnya mental health di kalangan mahasiswa terus meningkat. Survei dari Pew Research Center menunjukkan bahwa 3 dari 10 remaja usia 13-17 tahun mengonfirmasi bahwa kecemasan dan depresi adalah hal umum di sekolah mereka. Kesadaran ini mendorong lebih banyak institusi pendidikan untuk menyediakan layanan konseling dan dukungan kesehatan mental.

Namun, masih ada gap yang besar dalam pemanfaatan layanan kesehatan mental. Hanya 7% mahasiswa college yang mencari bantuan dari profesional kesehatan mental ketika mengalami stres atau depresi. Ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk sistem dukungan yang lebih accessible dan mengurangi stigma terkait mencari bantuan profesional.

Dengan memahami kondisi ini, memilih jurusan yang tepat dengan tingkat stres yang manageable menjadi sangat penting untuk kesehatan mental dan kesuksesan akademis jangka panjang.

 

Hal-hal yang Mempengaruhi Tingkat Stress di Jurusan Kuliah

Tidak semua jurusan diciptakan sama dalam hal tingkat stres yang dialami mahasiswanya. Ada berbagai faktor yang membuat satu jurusan lebih stressful dibanding yang lain. Memahami faktor-faktor ini akan membantumu membuat keputusan yang lebih baik saat memilih jurusan. 

Sama seperti persiapan IELTS, manajemen stres juga menjadi hal penting agar kamu bisa menghadapi tekanan akademik dengan lebih sehat, terutama saat menjalani masa studi maupun persiapan ujian bahasa. Kamu bisa mempelajari tipsnya di artikel tentang manajemen stres saat persiapan IELTS.

1. Beban Kerja dan Jam Belajar

Salah satu faktor utama yang menentukan tingkat stres adalah jumlah jam yang harus dihabiskan untuk belajar dan mengerjakan tugas. Jurusan seperti Engineering, Kedokteran, dan Architecture terkenal dengan beban kerjanya yang sangat berat, sering kali memerlukan 20-30 jam belajar per minggu di luar jam kuliah.

Sebaliknya, jurusan seperti Communications, Education, dan Liberal Arts umumnya memiliki beban kerja yang lebih teratur dengan rata-rata 10-15 jam belajar per minggu. Ini memberikan mahasiswa lebih banyak waktu untuk aktivitas ekstrakurikuler, part-time job, atau sekadar beristirahat.

 

2. Tingkat Kesulitan Materi

Kompleksitas materi yang dipelajari sangat mempengaruhi tingkat stres. Jurusan yang berat di math dan science, seperti Physics, Chemistry, atau Computer Science, memerlukan pemahaman konsep yang sangat mendalam dan kemampuan problem-solving yang tinggi. Setiap konsep saling berkaitan dan membangun satu sama lain, sehingga jika tertinggal di satu topik, akan sulit memahami materi selanjutnya.

Di sisi lain, jurusan di bidang humanities dan social sciences seperti Anthropology, Sociology, atau English Literature cenderung lebih fleksibel dalam hal pemahaman. Meskipun tetap memerlukan kemampuan analisis yang baik, materinya lebih subjektif dan tidak sesulit sains.

 

3. Metode Evaluasi dan Ujian

Cara penilaian sangat mempengaruhi tingkat stres mahasiswa. Jurusan dengan ujian yang sangat terstruktur dan memerlukan hafalan detail, seperti Medicine atau Law, cenderung lebih stressful. Tekanan untuk mendapat nilai tinggi dalam ujian yang menentukan masa depan karier sangat besar.

Sebaliknya, jurusan yang lebih fokus pada project-based learning, essay, presentasi, dan portfolio cenderung tekanan stress lebih rendah. Metode evaluasi ini memberikan waktu lebih banyak untuk persiapan dan memungkinkan mahasiswa untuk bekerja sesuai pace mereka sendiri.

 

4. Kompetisi dan Nilai GPA

Tingkat kompetisi di antara mahasiswa juga berkontribusi pada stres. Jurusan dengan sistem grading yang sangat kompetitif, bisa  menciptakan atmosfer yang sangat kompetitif dan stressful.

Data menunjukkan bahwa jurusan dengan GPA rata-rata yang lebih tinggi umumnya memiliki tingkat stres yang lebih rendah. Jurusan seperti Education dan Social Work memiliki rata-rata GPA di atas 3.0, sementara jurusan STEM sering memiliki rata-rata GPA di bawah 3.0 karena kesulitan materinya.

 

5. Ketersediaan Dukungan

Jurusan dengan sistem support yang baik, seperti tutorial sessions, peer mentoring, dan accessible professors, cenderung mengurangi tingkat stres mahasiswa. Sebaliknya, jurusan dengan kelas besar, professor yang sulit dihubungi, dan kurangnya dukungan akademis akan meningkatkan stress level.

 

Daftar Jurusan dengan Tingkat Stres Paling Rendah

Setelah memahami faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat stres, berikut adalah daftar lengkap jurusan kuliah yang umumnya memiliki tingkat stres rendah namun tetap menawarkan prospek karir yang baik dan penghasilan yang layak.

Daftar Jurusan dengan Tingkat Stres Paling Rendah

Jurusan Alasan Stres Relatif Rendah Prospek Karier
Business Administration Materinya praktis dan sering kepakai sehari-hari, nggak banyak hitungan rumit, pilihan karirnya jelas dan luas. HR, entrepreneur, sales, business consultant, project manager
Communication Studies Banyak diskusi dan presentasi, jarang hitungan, fokus ke skill komunikasi dan menulis. PR, marketing, media planner, content strategist
Education Materi ringan dan aplikatif, suasana belajar suportif, jarang pelajaran hitung-hitungan berat. Teacher, counselor, administrator pendidikan
English & Creative Writing Materi kelas dominan reading dan writing, tugasnya fleksibel, banyak ruang berekspresi. Editor, copywriter, teacher, content creator
Psychology Bahas perilaku manusia yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tugasnya banyak diskusi dan esai. HR, counseling*, market researcher
Anthropology & Sociology Fokus ke memahami masyarakat dan budaya, minim hitungan, lebih banyak observasi dan analisis. Social worker, policy analyst, researcher
Liberal Arts Bebas pilih mata kuliah, penilaian banyak lewat esai, cocok buat yang nggak suka pelajaran teknis. Education, PR, HR, non-profit
Tourism & Hospitality Management Banyak praktik dan pengalaman lapangan, industrinya menyenangkan. Hotel manager, event planner, tour operator
Fine & Performing Arts Belajar sesuai passion, penilaian berbasis karya, suasana komunitas suportif. Artist, designer, performer
Environmental Studies Banyak kegiatan lapangan dan alam, seimbang antara teori dan praktik. Sustainability officer, environmental consultant
History Fokus baca dan nulis, tanpa lab atau hitungan, cocok buat yang suka cerita masa lalu. Teacher, curator, policy analyst
Public Relations Tugasnya kreatif dan proyekan, banyak praktik dibanding teori berat. PR specialist, media relations, social media manager

*Catatan: Beberapa jalur karier (seperti counseling) memerlukan pendidikan lanjutan.

 

Negara Terbaik untuk Kuliah di Luar Negeri Low Stress

Beberapa negara menawarkan sistem pendidikan yang sangat baik untuk jurusan-jurusan dengan tingkat stres rendah:

 

Negara Alasan Low Stress Contoh Kampus Rekomendasi Syarat IELTS (Umum)
Amerika Serikat Sistem pendidikan fleksibel, bisa eksplor jurusan sebelum menentukan major, banyak jurusan liberal arts & business University of Oregon, Arizona State University, University of Florida, UCF 6.5 (beberapa kampus 6.0)
Inggris Program humanities & social sciences kuat, durasi S1 hanya 3 tahun sehingga lebih efisien University of Surrey, Bournemouth University, University of Sussex, Oxford Brookes University 6.5-7.0
Australia Kualitas hidup yang tinggi, sistem belajar santai tapi berkualitas, lingkungan multikultural Griffith University, Deakin University, Monash University, University of Queensland 6.5
Kanada Lingkungan belajar suportif, biaya relatif lebih terjangkau, peluang kerja pasca lulus besar University of British Columbia (UBC), Simon Fraser University, York University, University of Calgary 6.5 (beberapa 6.0)
Selandia Baru Sistem pendidikan praktis & aplikatif, sangat ramah untuk international students University of Waikato, Lincoln University, Massey University, Victoria University of Wellington 6.0–6.5

 

Kamu bisa mengeksplorasi lebih lanjut tentang universitas terbaik di Eropa yang menawarkan program-program dengan tingkat stres yang lebih manageable dengan biaya yang lebih terjangkau dibanding Amerika Serikat.

 

Mau Persiapan IELTS Tapi Nggak Mau Stress? Yuk Siapkan Bareng ElevaU!

Di ElevaU, kamu bisa ikut Kelas persiapan IELTS yang fleksibel dan fokus pada strategi pengerjaan soal.

Keuntungan kursus IELTS di ElevaU:

  • Garansi Skor: ElevaU menawarkan garansi skor 7.0 dengan syarat tertentu.
  • Fleksibilitas: Pilihan program mulai dari reguler (2-3 bulan), intensive (1-2 bulan), atau exclusive 1-on-1 (Fast Track).
  • Rekaman Kelas: Peserta dapat menonton ulang rekaman kelas sesuai kebutuhan.
  • Mock Test: Tersedia 3 kali mock test lengkap, sesi speaking 1-on-1, dan pre-test gratis.
  • Kelas Kecil: Kelas dengan maksimal 8-10 siswa untuk bimbingan yang lebih intensif. 

Konsultasikan dulu dengan admin ElevaU yang siap bantu memilih program sesuai kebutuhan kamu!

Dengan bimbingan pengajar ahli, kamu akan selangkah lebih dekat menuju impian kuliah di luar negeri. Jangan lupa unduh e-book eksklusif IELTS dari ElevaU, berisi panduan belajar lengkap, strategi jitu, serta latihan soal untuk membantumu tembus skor 7.0.

Rekomendasi

Related Program